Catatan Muslim
tradisi gundul santri

Yang Unik di Pesantren dan Bikin Kamu Kepo

Apa yang ada dalam pikiranmu ketika pertama kali mendengar kata “santri”? Seorang remaja muslim taat yang sedang menempuh sekolah agama disebuah asrama? Mungkin saja begitu.

Memang kebanyakan dari kita yang memiliki anggapan seperti demikian, tetapi sesungguhnya santri juga manusia biasa pada umumnya. Para santri juga memiliki kekurangan dan kelebihan, tentunya karena para santri di pondok pesantren memiliki latar belakang yang berbeda-beda.

Bagi kamu yang mengenyam pendidikan di sekolah reguler mungkin merasa tidak senang dengan berbagai peraturan yang diterapkan sekolah karena terlalu “ketat” dan membatasi ekspresi.

Misalnya seperti larangan rambut gondrong bagi siswa, larangan mewarnai rambut, dan berbagai larangan lainnya sehingga bagi siswa-siswi yang senang mengekspresikan dirinya merasa terkekang dengan berbagai peraturan di sekolah. Apabila ada yang melanggar akan dikenakan hukuman yang sesuai, terutama yang berkaitan dengan rambut maka akan dicukur botak.

Meskipun begitu kamu tetap bersyukur, karena peraturan dan sangsi di sekolah reguler nyatanya lebih tegas diberlakukan di sekolah-sekolah asrama atau pondok pesantren. Santri yang sedang mengemban pendidikan di pesantren tidak hanya menghafal surat-surat Al-Qur’an, Hadits, dan berbagia macam doa, tetapi masih banyak kegiatan lain yang harus mereka jalani dengan berbagai rintangan dan tentunya harus bisa konsisten dalam kedisiplinan.

Peraturan dibentuk agar semua yang ada di suatu tempat menjadi disiplin dan menjaga kenyamanan bersama. Begitu juga dengan peraturan di pesantren dibentuk agar santri bisa menjaga kedisplinannya dan juga harus menerima konsekuensinya apabila melanggar peraturan tersebut.

Dalam lingkungan pesantren santri yang melanggar peraturan akan dikenakan Ta’zir (hukuman bagi santri yang melanggar).

Hafalan Surat atau Doa

Hukuman ini akan diberlakukan kepada santri yang tidak mengikuti shalat berjamaah, lupa mengerjakan tugas dari ustadz, atau bahkan tertidur saat pengajian sedang berlangsung.

Memang terdengar biasa saja, siapa saja bisa menghafal, tentu, apabila menghafalkan doa makan, tetapi apabila menghafal surat sebanyak 1 Juz? Pasti akan terasa lebih sulit. Meskipun begitu, hukuman seperti ini tentu akan berguna bagi santri di kemudian hari.

Menata Sandal di Depan Masjid

Apabila ada santri yang terlambat datang ke masjid untuk shalat berjamaah atau mengaji, maka sebelumnya akan dikenakan hukuman menata sandal teman-teman santri lainnya yang ada di depan masjid.

Terdengar sederhana saja hukuman ini, tetapi apabila mengetahui jumlah seluruh santri yang ada di pondok dan semuanya hadir di masjid, sudah pasti itu menjadi sebuah kesulitan dan merupakan hukuman yang cukup setimpal. Semua sandal yang di depan masjid itu harus tertata dengan rapi.

Cukur Gundul

Hukuman dengan level yang cukup berat adalah cukur gundul. Santri yang mendapat hukuman seperti ini biasanya adalah santri yang seringkali mengulangi kesalahan yang sama. Misalnya bolos sekolah, keluar tanpa izin pihak pesantren, dan juga pelanggaran lainnya. Cukur gundul seperti ini tentunya akan mengundang mata para santri lainnya.

Bahkan terkadang santri yang dicukur gundul awalnya akan dicukur secara acak sehingga ketika pulang ke asrama santri tersebut akan mencukur gundul dirinya sendiri. Hukuman ini bisa memberikan efek jera agar santri tidak mengulangi kesalahan lagi.

Barang yang disita atau dihancurkan

Sekali lagi, bagi kamu yang mengenyam pendidikan di sekolah reguler mungkin masih bisa dibilang beruntung, karena sekolahmu masih memperbolehkan siswa-siswinya untuk membawa gawai atau gadget. Hal tersebut tidak berlaku di pesantren.

Bagi para santri yang diketahui dirinya membawa gawai maka akan disita. Biasanya benda yang disita akan dihancurkan di depan umum dengan tujuan memberikan efek jera sekaligus memberikan peringatan kepada teman santri yang lainnya.

Orangtua yang diundang ke Pondok

Apabila ada santri yang sangat susah diajarkan untuk disiplin maka terpaksa pihak pesantren akan mengundang wali santri untuk datang ke pondok. Namun tujuannya bukan untuk dipulangkan, melainkan untuk mediasi antara wali santri, santri tersebut, dan juga pihak pesantren. Dengan begitu, ketiga pihak tersebut akan mencapai suatu mufakat demi kebaikan santri tersebut.

Avatar

joko yugiyanto

Add comment